Inilah Akibat Fatal bila Guru Sering "Mendongkrak" Nilai Siswa

Seringkali seperti kata Carol S. Dweck, jika siswa tidak bermain sesuai irama, itu karena mereka belum mempelajari caranya. Cara mengoptimalkan hasil belajar bukanlah dengan cara menurunkan standar, melainkan memperbaiki hubungan antara guru dan murid dan memperbaiki proses belajar.

Kalau kita tidak mau memperbaiki diri, maka inilah akibat fatal yang akan terjadi.

1. Merasa berhak mendapatkan tugas mudah (lihat efeknya mulai dari SD hingga dunia kerja!)
Anak yang terlatih dengan bantuan kemudahan, maka akan terus menggantungkan dirinya dengan bantuan tersebut. Dia akan terus berpikir bahwa belajar tidak perlu rajin. Toh, nanti juga bisa mendapatkan nilai dan naik kelas juga.

Efek bagi murid
Anak bukannya tertantang ketika mendapat masalah, melainkan mengeluh dan menyalahkan pihak lain. Baginya, seharusnya guru memberikan soal yang lebih mudah. Akhirnya, anak-anak sudah merasa berhak mendapatkan tugas mudah. Maka jangan heran jika masih banyak yang mengidolakan "jam kosong" Di sekolah, mengidolakan guru yang memperbolehkan apa saja dan tetap memberikan nilai bagus.

Ketika tugas mudah dianggap hak, maka anak akan terus menawar dan menuntut untuk mendapatkan kemudahan. Bahkan di dunia kerja, ditemukan fakta bahwa mayoritas usia kerja tidak menyukai pekerjaannya dan tetap bertahan. Bisa jadi, karena mereka berpikir, yang penting tidak terlalu capek dan tetap mendapatkan bayaran.

Efek bagi guru
Masih ada saja guru yang tidak sadar telah menurunkan standar belajar beserta hasil belajar dalam bentuk nilai. Kadang beralasan bahwa anak-anaknya sulit diajak belajar, susah konsentrasi, lambat, dan malas, padahal kesabaran guru yang berkurang atau kreatifitasnya yang minim. Bukan peserta didiknya yang salah. Bersambung... Baca Dihalaman Selanjutnya

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Inilah Akibat Fatal bila Guru Sering "Mendongkrak" Nilai Siswa"

Posting Komentar