Di Indonesia Penelitiannya Ditolak, Pelajar Asal Yogyakarta ini Malah Diundang Google

Dari keinginannya main game tersebut, Christopher Farrel Millenio lalu mulai mencari di internet cara mengecilkan data. Dari pencariannya itu, remaja berusia 17 tahun ini menemukan data compression atau pemampatan data.

"Saya iseng-iseng mencari lalu riset dan ternyata, data compression belum begitu berkembang, ya lalu muncul ide untuk meneliti karena dampaknya luas juga," katanya.

Sejak kelas 1 SMA, Farrel melakukan penelitian lebih serius tentang data compression.

Setelah kurang lebih satu setengah tahun, remaja kelahiran Yogyakarta, 1 Januari 2000, ini berhasil menciptakan penelitian yang diberi judul "Data Compression Using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data".

Hasil penelitiannya itu lalu diajukan ke ajang kompetisi di Indonesia baik regional maupun nasional.

Sebab, menurutnya, belum ada orang Indonesia yang meneliti secara khusus mengenai data compression, padahal dampak positifnya begitu besar.

Namun, upayanya itu tidak membuahkan hasil. Diajukan sejak tahun 2016, proposal penelitian milik Farrel selalu ditolak. "Ya, kalau dihitung sampai 11 kali tidak diterima," katanya.

Penolakan itu tidak membuat Farrel berkecil hati. Justru hal itu malah membuat semangat remaja berkacamata itu kian membara. Dia terus berusaha menyempurnakan penelitiannya baik dari sisi teori hingga penulisannya. Sebab, remaja kelahiran Yogyakarta ini yakin suatu saat penelitiannya akan diterima. Bersambung.>>>Baca Dihalaman Selanjutnya
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Di Indonesia Penelitiannya Ditolak, Pelajar Asal Yogyakarta ini Malah Diundang Google"

Posting Komentar